Laman

Minggu, 18 Maret 2012

merindumu

Aku merindumu di tengah malam syahdu. Saat jam dinding berdetak, saat hatiku tersentak.

Aku mengingatmu di tengah malam sendu. Saat nyanyian mengalun syahdu, saat hati bersimbah haru.

Aku menantimu di tengah hembusan debu. Saat mulut tak mampu berkata, saat air mata yang bicara.

Aku menantimu dalam sendu bersimbah haru. Saat semua tak berarti apa-apa. Saat rindu kembali meraja.

Aku mengingatmu ditemani lagu sendu. Saat hati kian merajuk. Saat air mata bercampur peluh.

Aku merindumu dalam balut kain selimut. Saat kedinginan membekukan tulang. Saat lidah berkala ucapkan kata cinta.

senja

Ketika surya terbenam, saat itu asaku tenggelam.
Lelahku tak ada arti jika ia yang kunanti.
Aku menantinya diujung senja, saat senyuman bermakna lebih dari kata-kata.
Penantianku berarti kesetiaanku.
Jika duka ku saat ini untuk bahagiaku dimasa yang akan datang, aku ikhlas menangis di balik senyuman.
Senjaku merindu. Seiring hentakan langkahmu, seirama nyanyian syahdu.
Waktu berlalu, namun tidak rinduku. Karena bagiku menunggu adalah ketika aku menantimu.