Laman

Tampilkan postingan dengan label ketak-ketik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketak-ketik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2011

anggun unggun


Wajah anggun torehkan senyum. Seketika aku tertegun. Api unggun menyala membakar daun rimbun. Embun mengering terbakar unggun. Sayap dikepak terbang sang burung. Raut wajah anggun masih torehkan senyum. Tak seorang pun tahu, lara hati yang terhimpun.

Selasa, 10 Mei 2011

Amazing cool concept Music

Perkembangan tekhnologi kini makin merajalela. hal tersebut tentu mengakibatkan berbagai efek baik positif maupun negatif tergantung dari pandangan individunya masing-masing. berikut ini adalah video yang menampilkan mengenai orang-orang yang dapat memanfaatkan perkembangan tekhnologi ke dalam hal yang positif dan menjadikannya sebagai alat untuk menyalurkan kreasi.


sumber: http://www.youtube.com/watch?v=WRAfdiphYNU 

Rabu, 13 April 2011

ku berharap


Bila mulut ini tak pandai berucap. kuinginkan hati ini bicara untuk lepaskan penat.
Kuinginkan logika ini bermain dengan segala keadaan nyata.
Jika tindakan ini tak dapat baik di matanya, kuinginkan ribuan pintu di hatinya terbuka dan jutaan mata di kalbunya menatap dengan tatapan cinta.

meniadakan mu, bukan ingin ku


Dan ketika kicau mu masih bergema, aku terjerambap dalam lumpur penuh duka.
Riak paras tak suka, seketika meluap tangis penuh luka.
Tak sanggup hati berkawan, bukan berarti tak mampu bertahan.
Lantunan merdu suara mu, sejukkan batin. Tak mampu aku berpaling.
Tak lagi pinta ku kau sambut, namun aku mampu bertahan dalam bimbang.
Bimbang rasa tersambut kala senja. Tak mampu aku berkelana.
Melawan senja rapuh aku semakin.
Senja ku menuntut kepergian mu.
Meniadakan mu, bukan inginku.

Minggu, 20 Maret 2011

Sukar Dimengerti


Permainan ini sukar dimengerti. Raut wajah tak lagi mudah dipahami. Ribuan kata yang terlontar akan selalu punya arti. Namun dapat kah kau memahami? Bukan kepalsuan yang ada. Namun tulus ku selalu kau anggap dusta.

Sabtu, 19 Maret 2011

Dalam perjalanan ke negeri mimpi


Dalam perjalanan ke negeri mimpi, setidaknya aku melihatmu di ujung pintu nyata ku.
Dalam perjalanan ke negeri mimpi, aku singgah ke pondok pertama yang aku temui. ada jejak mu di situ.
Dalam negeri mimpi, aku bermimpi tentang seseorang...

Minggu, 13 Februari 2011

Surat dari kasih mu


Rangkaian kata masih tersusun dalam imajinasi ku. Masih tersimpan dalam lisan ku. Masih tertata rapi dalam ingatan ku. Belum sempat aku berucap, namun kisah telah usai adanya. Bukan aku yang sudahi, bukan kamu, buka pula dia. Kasih menanti di ujung jalan ku. Tertunda hingga sakit yang ada. Ratapan penuh rindu ku curahkan, namun tetap tak ada ubah yang signifikan. Aku masih menanti mu di ujung jalan ku. Sampai hati tak mampu lagi menunggu. Sampai semua ini tak berarti apa-apa. Sampai kau mungkin tak ingat akan adanya rasa itu. Kasih, luangkan sejenak waktu mu untuk mengingat ku. Hanya sedikit saja aku meminta. Tak lagi aku pinta hati mu, tak lagi kupaksakan hati ku untuk kau miliki. Aku hanya meminta sedikit waktu mu. Untuk mengenang kembali masa lalu. Mengenang ku. Mengenang kamu. Mengenang kebersamaan kita yang tlah lalu. Bukan untuk mengembalikan perasaan itu. Hanya untuk sekedar mengingatkan, bahwa aku pernah ada di sini menanti mu, dengan cinta ku.

Senin, 29 November 2010

Adakah Kamu?

Ada dalam masa jenuh ku. Jumpa kasih tak bertaut, jerat tali membalut.
Jenuh jajaki hari, jenuh rajai waktu. Suka terkubur. Dera membaur. Aku dalam jenuh ku.
Ada dalam masa rapuh ku. Riang suka tak tersambut, rangkup duka kian terbalut.
Rapuh temani ringkih, rapuh rasuki diri. Kuat ku tersapu. Tegar telah hancur. Aku dalam rapuh ku.
Ada dalam masa duka ku. Nanar tatap risau, resah jadi semakin.
Duka ratapi nasib, duka menjadi sakit. Waras raib. Sadar tak bangkit. Aku dalam duka ku.
Jenuh ku, rapuh ku, duka ku. Adakah kamu?

Jumat, 19 November 2010

peluh atas duka

Racau kicau burung mengigau. Resah ku mengacau. Sekelebat aku melihat fatamorgana keindahan. Namun tetap saja semu. Bukan nyata. Tak akan pernah nyata. Bukan raut ku yang menekuk membuat ria tak terupa. Namun duka memang melanda. Bersama kabut duka. Bersama tetesan air mata. Peluh ku berbaur dengannya. Peluh atas duka.

Minggu, 14 November 2010

aku diperkosa waktu

Tak gentar ia mengejar, tak lelah ia mencari. Kekosongan adalah penantiannya, kesenangan dalam hatinya. Raut rupa gembira bersaut dengan sorak gegap gempita. Racunnya merasuk dalam raga, rusakkan kesempatan bersuka. Aku porak poranda. Waktu menghimpit. Memperkosa. Aku diperkosa waktu.

Jumat, 12 November 2010

dusta malu mu

Sembunyi mengurung diri. Rasa sendiri kian merasuk dalam hati. Luka bukan tak mengering sendiri. Namun peluh kian membasahi. Kelakar akar masalah mulai menampakkan diri. Tak lagi belari untuk kemudian bersembunyi.
Mulutmu berbusa. Menahan semua dusta yang semakin lama semakin berlipat jumlahnya. Bukan aku tak mampu membongkar laci kebohonganmu. Namun aku tak mau melumurkan mu rasa malu. Atau kau kini tak lagi punya malu???

Sabtu, 16 Oktober 2010

wahai manusia!

Wahai manusia, dengarlah jeritan bumi mu. Mereka merintih sesungguhnya. Tidakkah kau sadar akan hal itu?
Wahai manusia, dengarlah rintihan tanah yang menjadi jejakmu. Mereka tersedu sesungguhnya. Tidakkah kau sadar akan hal itu?
Wahai manusia, dengarlah tangisan ibu pertiwi tempat kau bernaum. Ia terisak sesungguhnya. Tidakkah kau sadar akan hal itu?
Wahai manusia, sadari apa yang kau lakukan. Kerusakan yang ada sesungguhnya. Tidakkah kau sadar akan hal itu?

Jumat, 01 Oktober 2010

duka nestapa

Muak sesak penat terasa. Jantung tercekat, raga tak dapat bergerak. Sautan kicau burung bising terdengar. Memekakkan telinga, mengaduh dalam ruang jiwa. Hati ku peka. Peka akan kedukaan ini yang semakin lama semakin mendera.

Reda duka reda nestapa. Ciptakan suka torehkan tawa. Dukamu bukan jadi masalah hidupnya. Bangkitlah. Teriakan semangat ceriamu pada dirinya dan pada dunia.

Rayuan kasih mu terasa nyata bagiku. Lelap aku tertidur dalam timangan mu dan bermimpi indah diiringi belai mu. Rayuan mu bukan mimpi dalam tidur ku. Tapi fakta dalam dunia ku. Aku yakini itu karena aku tau siapa kamu. Namun semakin aku meyakini nya, semakin itu semua terasa dusta adanya. Lepaskan dan lupakan. Aku sudahi mimpi ku akan dirimu. Bukan karena aku takut kehilangan kau. Tapi karena aku tidak mampu untuk disakiti dengan semua dusta mu.

Jumat, 24 September 2010

bukan tidak, namun tapi!

Ku bendung air mata ku dalam cawan kedukaan. Bersimbah luka aku bertahan dalam rintihan samar yang hanya dapat didengar oleh kalbu ku. Tidak oleh mu! Aku membenam diri dalam lumpur berharap saat aku bangkit, kesakitan ini telah berakhir. Bukan karena aku tak sanggup menahannya tapi aku muak mengingatnya. Risau ku membangunkan aku dari mimpi lelap ku. Kebodohan itu mendarah daging hingga aku terjerumus dalam jurang curam yang tak dapat ku daki saat aku telah berada di bawahnya. Aku tidak menyesali apa yang telah aku perbuat. Aku hanya tak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan saat ini. Curahan rasa simpati ku terima dengan lapang, Namun tetap saja tak memperbaik suasana hati yang telah terlanjur berduka hingga ke dasarnya.
Aku menutup diri. Bukan karena aku malu namun karena aku tak sanggup menerima tatapan aneh yang tertuju pada ku. Aku muak dengan mereka! Muak dengan cibiran yang membuatku ingin muntah saat mendengarnya. Sadarkah kalian para pencibir bahwa hidup kalian belum tentu lebih baik dari hidup ku? Berkaca lah. Pelajari apa yang telah kau lakukan.
Ratap duka ku bukan luapan keputus-asaan ku. Tapi luapan emosi yang memuncak yang selama ini tertahan bersama air mata dalam bendungan kedukaan ku. Tatap ku sendu. Bukan karena aku meminta belas kasih melainkan karena aku tak lagi mampu mengobral senyum istimewa ku. AKU MUAK DENGAN KEPURA-PURAAN!